“Uwohhhhhhhhhhhhh...” (teriaknya sambil menguap)
Begitulah jika ia baru saja
terbangun dari tidurnya. Sebut saja namanya Ejha. Ia duduk dibangku kelas 3 SMP. Ejha yang baru saja menyelesaikan
perangnya dalam menghadapi kejamnya soal-soal UNAS ini terpaksa harus bangun
untuk mengambil ijazah di sekolahnya setelah mendapat jatah libur selama dua
minggu.
Suara kicau burung dipagi hari terdengar menembus
langit-langit kamarnya. Ejha masih saja terbaring malas untuk bangun. Tak sadar
sang mentari mulai menyinari kamar yang berukuran 5x6 meter itu,Ayahnyapun
dengan senang hati menerobos masuk ke ruangan favorit cewek malas ini.
“Ayo bangun,kebiasaan nunggu Ayah yang bangunin !!!” teriak Ayahnya.
“He’emmmmmmmm iya iya !” jawab Ejha setengah hati.
Setelah itu,bergegaslah ia menuju ke kamar mandi,perjalanan
yang sangat panjang menurutnya karena rasa ngantuk yang tak kunjung pergi masih
saja mengikuti. Dan benar saja begitu sampai di kamar mandi,Ejha langsung masuk
dan tak segan menyiram tubuhnya dengan air yang suaranya hingga terdengar
sampai ke luar,Ibunya yang mendengar langsung menggedor pintu kamar mandi.
“Woyyy yang bener dek kalau mandi,ini ya! Nggak enak didengar
tetangga,ini masih pagi banget !” kata Ibu.
“Udah tahu pagi buta masih aja disuruh mandi!” bisik Ejha
pada dirinya sendiri.
“Iya buk iyaaaa !” lanjutnya
sambil teriak.
Begitu
ia keluar,sang Ayah sudah menunggunya di meja makan.
“Nyadar nggak sih kalau kamu itu mandinya 3 jam?” ucap Ayah.
“Apaan,idihhh lebay deh Ayah ini. Wongan baru 5 menit.”
sewot Ejha yang sudah ketahuan salah masih aja nyolot.
“Sudah-sudah cepetan sana ganti baju,takut telat kamu pergi
sekolah,jangan lupa sarapannya !” teriaknya pada Ejha yang sudah pergi
meninggalkannya menuju kamar.
Seragam putih biru usang yang sudah disiapkannya semalam,ia
kenakan.
30
menit berlalu,akhirnya Ejha siap untuk pergi ke sekolah. Sarapan yang sudah Ibunya
buatkan tidak ia makan. Tak berapa lama ia berjalan kaki,sampailah ia di tempat
yang menurutnya sebagai tempat pelepas penat,karena di sinilah ia bisa tertawa
lepas,bercanda,sharing mulai dari hal kecil sampai yang terberat sekalipun yang
tentu saja tidak ia temui di rumahnya. Yaaa ? Sekolah. Ia merasa memiliki
kebanggaan tersendiri ketika sudah keluar dari rumah. Menurutnya,ia merasa terkekang
jika berlama-lama berada di sana.
“Jhaaaaaaaaaaaaaaaaa..” terdengar suara teriakan seorang gadis
yang sedang memanggilnya. Ejha memutar kepalanya 180 derajat.
“Heyyyy bebebku,ini dia cewek yang paling aku kangenin !”
sambil merengkuh Rani,sahabat yang begitu ia sayangi itu dalam pelukannya.
“Hahahahaha,bisa aja ini bebeb sembebku. Liburan pasca UNAS kemana kamu sayang ?” tanya Rani yang
masih memeluk Ejha.
“Ya biasa beb,gitu-gitu aja di rumah. Mandi,makan,tidur,mandi,makan,tidur.
Arghhhhhhh ! Bosen.”
Kata Ejha ngeluh.
“Ealah, kebiasaan ya bebebku ini. Kenapa nggak hangout ?” tanya
Rani lagi.
“Nggak ah beb,males. Lagipula aku lagi
marahan sama dia. Pengen bubar rasanya.”
ujar
Ejha merengut.
“Lohh lohh marahan kenapa lagi sih
beb? Masa iya bubar? Udah 3 bulan ini loh,sayang tauk! Masa mau dibuang gitu
aja?” jawab Rani cemas.
Tiba-tiba tiga orang gadis datang di tengah-tengah pembicaraan mereka. Elga,Yuri dan Vira. Yaa,
mereka juga sahabat Ejha dan Rani.
“Hellooo sayang-sayangku!!!!!”
teriak Yuri kegirangan.
“Hussssss Ejha lagi galau ini.” kata
Rani.
“Loo ehh ehh kenapa ?” tanya Vira.
“Nggak apa-apa,udah yuk kesana. Sebentar
lagi giliran kita buat cap 3 jari.” ujar Ejha pelan.
Mereka berlima bersahabat sejak pertama
kali duduk dibangku kelas 3 SMP,walau yang sekelas hanya Ejha,Rani dan Elga.
Namun hubungan mereka tetap terjalin
baik bahkan semakin erat,seperti tidak dapat dipisahkan lagi. Mereka adalah
geng yang selalu bersama,susah atau senang,duka atau nangis. Apapun mereka
lakukan bersama,banyak hal yang nyaris tidak pernah mereka lakukan tanpa
bersama. Saat mereka lagi asyik berkumpul di depan kelas selagi menunggu
giliran,tiba-tiba si Elga mencolek pundak Ejha.
“Ehh kamu tahu nggak sama anak metal yang lagi deket sama
aku sekarang?”
tanya
Elga.
“Iya,kenapa emang ? Si Dikakan ?”
jawab Ejha datar.
“Iya,ternyata dia sukanya sama
kamu.” kata Elga lagi.
“Hahhh?? Kok bisa dia suka sama aku?
Aneh !!!” sembur Ejha.
“Ya mana aku tahu ? Katanya dia naksir kamu pas kita
rekreasi ke Bali. Dia lihat
kamu waktu kita foto-foto di Bedugul. Kan sekolahnya dia
barengan sama sekolah
kita ke sana ?” jelasnya,lalu Elga tertawa.
“Iya iya aku tahu kalau masalah itu. Tapi bukannya dia dekat
sama kamu ? Kemarin
aja pas rekreasi kalian janjian ketemuankan di Joger ?
Dia
aja cuma sekilas melihatku. Aku juga gitu,gimana ceritanya dia bisa suka ?” Ejha
meringis.
“Ya itu yang bikin aku bingung,aku pikir dia benar-benar suka
sama aku,soalnya dia
bilang sayang cinta cuma sama aku.” kata Elga sedih.
“Tapi kalau dia lebih sreknya sama kamu,nggak apa-apa deh
aku ikhlas,apapun buat
kamu sahabatku.” lanjutnya.
“Idihhhh apaan? Ogah ah! Akukan masih punya someone!” Ejha
menepis ucapan Elga. Keningnya mengernyit.
“Lagi ngomongin
gebetan Elga yang keren itu ya ? Sihiyyyyy !!!” seru seorang gadis dari
belakang,Ejha menoleh. Ternyata ada Rani yang sudah dari tadi berada di sana.
“Ini lagi! Tauk ah!” singkat Ejha.
“Iya nih ran,dia naksir Ejha katanya. Hahahaha!” jawab Elga
kegirangan.
“Ceileeh,yang lagi
kasmaran !” Rani menyenggol Ejha dengan sikutnya.
“Kalian berdua ini ya!! Isssshhh!! Nih nih liat status akun
facebooknya. Dia itu masih
punya pacar. Dan aku juga masih punya !!” kata Ejha sewot.
“Cieee yang lagi stalking akun facebook si Dika.” lagi-lagi Rani
menggoda Ejha.
“Tapi ya beb,jangan ah! Aku agak nggak setuju kalau kamu
sama dia,soalnya dia udah
ngedeketin Elga eh malah sekarang lari mau ngedeketin kamu.
Udah gitu dia masi
punya pacar,playboy dia beb. Mending terusin aja sama si
Dery.” sambung Rani.
“Iya iya sayangku,lagian siapa juga yang mau sama dia. Setia
sama satu orang ini.”
Ejha
tersenyum.
“Janji ya beb ?” tanya Rani lagi.
“Iya iya beb janji kok. Beb aku pulang dulu ya ? Udah ditunggu
sama Elga di depan.” Ejhapun melenggang pergi.
“Iyyyaaaa sayang hati-hati !!!” teriak Rani sambil
melambaikan tangannya kepada Ejha,iapun membalasnya.
Sepulang dari sekolah,Ejha menangis. Air mata kembali
bergulir dipipinya,setelah ia memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri tanpa
ada bayang-bayang Dery lagi di dalamnya. Diusapnya air matanya,tapi tetap saja
ngalir terus,tidak bisa berhenti. Matanya yang sipit menjadi sembab karena
begitu lama menangis.
Saat malam hari mulai menjelang, dan saat semua orang di rumahnya tertidur,Ejha
memilih untuk tetap terjaga hingga larut malam, ini merupakan kebiasaan rutin yang ia lakukan tiap satnite. Bertemankan handponenya yang
begitu sepi,biasanya sih yang selalu meramaikan si Dery,namun karena hubungan
mereka kandas di tengah jalan,terpaksa Ejha harus terima kesepian yang begitu
menyiksanya. Akhirnya iapun menyibukkan diri dengan memonitor timeline dan
postingan orang-orang yang ada di sosial media facebook. Begitu membuka situs jejaring
sosial pribadinya itu,ia terkejut karena Dika me-like seluruh
postingan miliknya. Sempat GR sih,namun Ejha kembali berpikir kalau Dika
melakukannya hanya modus dan tak berniat apa-apa. Tak berapa lama handponenya
berdering,ternyata sms itu datangnya dari nomor baru yang tentu saja tidak Ejha
kenal.
“Heh
:D”
Ejha tidak langsung membalas sms misterius itu seperti
halnya ia membalas sms mantan kekasihnya dulu,ia memutar-mutar telepon
genggamnya lantas ia tempelkan didagunya. Akhirnya ia membalas dengan rasa
penasaran dan sedikit takut.
“Sp ?”
Selang beberapa menit,handponenya kembali berdering.
“Dika heh :D”
“Yaaa ampunnn ternyata dia.” ujarnya pada dirinya sendiri.
Masa pendekatan mereka mulai,ia merasa mulai jatuh cinta
kepada Dika. Ejha tak sadar dan melupakan ucapan Rani pada siang itu yang
mengatakan bahwa Dika adalah seorang playboy, ternyata benar cinta buat orang
buta segalanya. Siapa sangka, Ejha yang awalnya ogah sekarang malah cinta mati
kepada Dika. Tai Kucing rasa Coklat, HAHAHA \=D/
Dikapun merasa kalau
dirinya menyukai Ejha pada pertemuannya yang pertama kali itu pada saat di
Bali. Ejha membuat Dika menyukainya karena senyumnya yang membuat Dika tak
dapat melupakannya. Namun Ejha merasa kesal,dilain sisi hati cewek hancur-sehancur
hancurnya karena Dika seringkali menceritakan cewek lain yang ia sukai kepada
Ejha. Ejha berpikir kalau Dika hanya berpura-pura menyukainya.
Belum genap seminggu mereka menikmati masa-masa pendekatan satu sama lain,minggu paginya Dika memberanikan diri menelfon Ejha.
“Kamu baru putus ya?” tanya Dika lembut.
“Iya.” jawab Ejha singkat sambil mengusap keringat yang mengucur
dilehernya. Ejha begitu grogi karena untuk pertama kalinya ia mendapat telfon
dari Dika.
“Udahlah jha,barangkali
memang bukan jodohmu. Lagian masih ada cowok lain yang nungguin kamu.” kata Dika
berusaha meyakinkan Ejha.
“Mana ada cowok yang mau sama aku?” Ejha patah semangat.
“Ada kok! Aku! Aku suka sama kamu,dan aku sayang sama
kamu,bukan cuma sebagai teman biasa. Aku pengen hubungan kita lebih dari
sekedar teman ataupun sahabat.” Dika mengutarakan seluruh isi hatinya kepada Ejha,sekalipun
itu hanya lewat telfon.
Si
Ejha terkaget-kaget,ia tak menyangka.
“Jadi selama ini cewek yang musti kamu ceritain ke aku
ituuu...” ucap Ejha terputus.
“Kamu! Cewek itu kamu sendiri! Kamu bersedia jadi pacarku?”
sambung Dika.
“Emmmmmmm....” Ejha berpikir keras.
“Loh hey,ayo jawab! Kok malah diem? Apa perlu aku ulang?” suaranya
begitu lembut saat Dika mengucapkannya.
“Eng....gakkk! I....yaaaa a....ku mau jadi pacar ka..mu !”
kata Ejha lambat-lambat. Lagi-lagi keringat dingin mengucur dilehernya.
“Serius mau? Nggak terpaksakan? Ya Allah aku
seneng banget loh jha Ejha.”
Suara Dika begitu
nyaring dan terdengar seperti seseorang yang baru saja
mendapat
kupon berhadiah,ia begitu senang dan bahagia saat Ejha mau menerimanya.
Paginya Ejha sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah.
Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Hari ini ia menetapkan untuk bercerita
tentang hubungannya dengan Dika kepada Rani. Wajahnya berseri-seri,senyum selalu
terpancar diwajahnya.
“Pagi Ran...!!” sapanya sambil menepuk bahu Rani.
“Pagi ! Semangat banget sihhh,ada apa nih ?” tanya Rani
penasaran.
“A.....kuuu !” kata Ejha terbata-bata.
“Iyaaa kenapa kamu ?” Rani makin penasaran.
“Aku baru jadian !” dengan gerakan bibir yang cepat Ejha
mengucapkannya.
“Hahhh? Serius? Sama siapa beb? Bukannya kemarin baru putus
ya sama Dery ?” ucap Rani sedikit mencondongkan mulutnya ke depan.
“Iya beb. Tapikan nggak ada yang tahu kejadian selanjutnya
kayak gimana. Haha !”
ujar
Ejha sumringah.
“Ihhh resek ini ah bebeb. Siapa cowok yang berhasil naklukin
hati sahabatku yang
jutek ini ?” dumel Rani.
“Jangan gitulah beb. Akukan malu !” ujar Ejha tersipu.
“Iya iya makanya ayo cepetan cerita.” jawab Rani yang
semakin sebal dan lagi-lagi penasaran.
Ejha nyengir menatap Rani lamat-lamat,lantas melontarkan
sebuah kata pendek.
“Dika !” Ejha menjentikkan bahunya.
“Bebbb? Serius sama si Dika ? Sama mantan gebetan Elga itu?
13 mei 2012
kemarin?” kata Rani yang masih tak percaya sambil
menempelkan kedua telapak tangannya dipipi Ejha. Ejha tidak berkata apapun,ia
hanya mengangguk. Rencanya besok pagi si Dika ingin mengajaknya untuk kencan
yang pertama kali,dan benar saja Ejhapun mengIYAkannya.
Hari-hari mereka lalui bersama,hingga mereka mengikat sebuah
hubungan yaitu “Pacaran”. Kebahagiaan terus mereka rasakan. Handpone yang
selalu ada digenggamannya selalu membuat Ejha tersenyum sendiri. Layar telfon
genggamnya itu mampu membuatnya
deg-degan,kesal,senang,dan
bingung akhir-akhir ini.
“Sayang,besok
jadikan ? Kita ketemu di mana ?:*”
“Besok
cuma ketemu atau hangout berdua sayang ?:*”
“Ketemu
aja dulu deh sayang. Nggak apa-apa kan ? J”
“Ealah,iyadeh
sayang. Kita ketemu di Indomart dekat rumahku aja ya ?
Tahukan
sayang ?”
“Iya
sayang tahu kok. Aku ke sana gowes aja deh sayang. Biar lebih kelihatan gitu
perjuangan
buat ketemu sama pacar kesayanganku ini. Hehe :D”
“Cieee
sayang bisa aja deh. Jadi malukan aku ? Beneran mau gowes ?
Nggak deket loh
rumahku dari rumahmu :p”
“Iya
iya sayangku,masa iya bohong ? Nggak sabar deh nunggu besok! Sayang bilangin
dong sama Tuhan,buruan besoknya nggak sabar
ketemu Ejha :*”
“Lebay
deh sayang ini :p”
“Lebay
sekali-kali sama pacar sendirikan nggak apa sayang.
Sayang kamu heh :*”
“Iya
iya,sayang kamu juga pacar :*”
Ejha menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur,lalu menutup
matanya perlahan,dan sambil berpikir tentang hal apa yang akan terjadi besok
saat ia bertemu Dika. Sedikit berpikir untuk mencari cara agar bagaimana atau
apa yang akan diucapkannya besok saat Dika berada di hadapannya,dan itu
membuatnya lelah dan mengantuk,akhirnya tertidur.
†
“Selamat pagi dunia !!!” teriak Ejha
setelah membuka jendela kamarnya.
Hari ini Ejha semangat sekali untuk bangun,suara teriakan
sang Ayah yang biasa mengganggu gendang telinganya tak lagi ia dengar. Karena
ia bangun sebelum Ayahnya kembali menerobos kamarnya. Kalau tidak karena acara
kencannya dengan Dika,tak mungkin ia bangun sepagi ini. Bergegas ia keluar dari
rumah,karena Dika telah memberi tahunya kalau ia sudah menunggu Ejha ditempat
yang sudah mereka rencanakan. Ejha tampil berbeda hari ini,ia jalan ke sana ke
mari untuk menemui orang yang dicintainya,Dika. Dari kejauhan,ia mendapati
kekasihnya itu sedang menunggunya sambil menyenderkan sepeda yang dinaikinya ke
tembok. Dika menatap Ejha takjub. Tidak berapa lama sebuah kata terlontar dari
bibir Dika.
“Akhirnya yang ditunggu datang juga,kok sendirian aja ?”
kata Dika tersenyum.
“Iyalah,masa mau ngajakin orang sekampung.” balas Ejha
sambil melihat-lihat
keadaan
di sekitarnya.
“Ya nggak juga sih sayang.” Dika meringis memperlihatkan
barisan giginya.
“Udah makan ?” lanjutnya.
Ejha
mengangguk tanpa mengeluarkan sepotong katapun,ia kembali grogi.
“Ejha cantik hari ini.” lagi-lagi tatapan Dika sangat lembut
dengan senyumnya yang
menawan.
“Ah bisa aja.” jawab Ejha sambil malu-malu.
“Aku nggak bohong kalau Ejha itu cantik.” suaranya yang
lembut membuat Ejha terpaku. Ejha hanya diam tak bisa bicara,jantungnya
berdegub kencang tak karuan saat mendengar Dika mengatakan “CANTIK” pada
dirinya.
“Ternyata beneran gowes ?” Ejha mengalihkan pembicaraan.
“Kan aku udah bilang,aku gowes biar perjuangan buat ketemu
kamu itu lebih
kelihatan.” balas Dika tak lupa senyum khasnya.
“Iya deh iya,terimakasih ya ?” kata Ejha.
“Terimakasih untuk apa ?” dan untuk pertama kalinya Dika
bertanya dengan tatapan yang tak terlihat lagi senyumnya yang menawan
diwajahnya.
“Ya
soalnya udah bela-belain gowes kesini cuma buat ketemu aku.” Ejha menjawab
sambil menghela napas ditemani dengan senyumnya yang langsung mengembang.
“Jangan gitu ah,bukannya wajar ya kalau cowok itu ngebuktiin
rasa
sayang kepasangannya ? Maaf kalau cuma bisa seperti ini. Aku
sadar kok,aku berbeda
90 derajat dengan mantan-mantanmu,mereka punya segalanya.
Sedangkan aku ?”
diakhir
kata Dika menundukkan kepalanya.
“Ini lebih dari cukup,terimakasih. Kamu berbeda !” lagi-lagi
Ejha hanya tersenyum.
“Berbeda karena pembuktianku nggak seistimewa
mantan-mantanmukan ?”
Dika
kembali menunduk,ia hanya sekilas menatap wajah Ejha.
“Ini lebih dari sekedar istimewa,sumpah belum ada yang
berani gowes jauh-jauh
kesini cuma buat ketemu aku,kamu yang pertama.” Ejha menatap
wajah Dika yang
masih
belum memiliki keberanian untuk membalas tatapan Ejha.
Tiba-tiba suasana hening mulai terasa,mereka berdua tidak
saling bicara.
Dan
saat Ejha bermain-main dengan tangannya Dika menatapnya,tatapannya yang tajam
selalu mengarah Ejha. Lantas membuat Ejha salah tingkah,makin lama makin dekat.
“Dika...” ucap Ejha.
“Ya ??” jawab Dika lembut seraya mengelus pelan punggung
tangan Ejha.
“Kenapa kamu...?” jawab Ejha terputus.
Kemudian
Ejha merasakan getirnya kecupan bibir Dika dipipinya.
“Oh my God,dia menciumku.” (kata Ejha dalam hati)
“Maaf jha,aku nggak bermaksud menyuruhmu kesini hanya
untuk...” lanjutnya dan melepaskan bibirnya dari pipi Ejha.
Ejha
diam dan berpikir kata apa yang cocok untuk menjawab itu semua.
“Emmm,aku pulang dulu,ada acara keluarga.” Ejha hanya
menjawab sepatah kata singkat dan langsung melenggang pergi.
Tepat setelah mengucapkan kalimatnya yang terakhir,sekilas
terlintas dalam benaknya,Ejha bertanya-tanya mengapa ia harus secuek itu
terhadap Dika,padahal Dika menciumnya hanya karena Ejha berhasil meyakinkannya
kalau Dikalah yang terbaik.
“Duh,bodoh Ejha kamu
bodoh,seharusnya kamu nggak ngelakuin hal itu sama Dika.” kata Ejha pada dirinya
sendiri sambil menepuk dahinya. Handponenya kembali berdering,Ejha terbangun
dari lamunannya. Ternyata si Dika
“Sayang,maaf
soal tadi. Aku nggak ada maksud... L”
“Iyya
sayang,nggak apa-apa kok. Akunya aja yang terlalu sensi J”
“Wajar
sayang sensi,ini pertama kali kita ketemu soalnya L”
“Udahlah
sayang,nggak usah dibahas ya ? Aku nggak apa-apa kok.”
“Beneran
nggak apa-apa ? Ya udah sayang. Oh ya aku cuma mau bilang.
Yang
aku sayang kamu doang,selamanya sayangku tetap kamu sayangku ({})”
“Iya
iya aku juga,tapi janji ya ? Jangan ingkar loh.”
“Iya
sayang,percaya deh sama aku :*”
Hari demi hari Ejha lewati bersama Dika. Dika adalah
pangeran yang kini mengisi hidupnya. Anugerah Tuhan yang membuatnya serasa
seperti putri dalam dongeng. Bahkan saat test penentuan di mana ia harus melanjutkan
sekolah menengah atasnya,Dika selalu menemani. Tiga hari pasca test,Ejha sangat
berantusias untuk melihat hasil akhirnya,dimanakah ia harus kembali mengenyam
bangku sekolah. Ternyata Tuhan menakdirkannya untuk satu sekolah dengan Dika,bahagia
tak bisa ia sembunyikan. Wajah Ejha berseri-seri.
“Akhirnya terwujud juga satu sekolah sama Ejha.” ujarnya
sambil tersenyum sumringah.
“Iya,benar-benar nggak nyangka.” kata Ejha pelan.
“Ya udah,yuk pulang.” Dika mengajaknya pulang sambil menancap
gas sepeda motornya itu.
“Yuk !” kata Ejha dengan sigap dan langsung mengambil posisi
berboncengan dibelakang Dika.
Masa orientasi tentu saja ia lalui bersama Dika,meski mereka
tidak satu kelas namun Dika rajin sekali duduk atau sekedar lewat di depan
kelas Ejha. Sebulan kemudian Ejha meminta Dika untuk bertukar kartu sim,tanpa
dimintapun Dika langsung menyetujui.
Keesokan harinya Dika kembali menemui Ejha di depan kelas
untuk menepati janjinya,Ejha tidak keluar kelas hanya lewat jendela ia
memberikan kartu simnya itu. Tidak sepatah katapun ia lontarkan kepada Dika,bahkan
ia langsung melenggang pergi dan meninggalkan Dika. Ia duduk nyaman dan tenang
setelah mengaktifkan kartu sim milik Dika dalam handponenya. Pelajaran demi
pelajaran ia jalani dengan khidmat tanpa terasa bel pulangpun berbunyi.
Handponenya kembali berdering,ada satu sms masuk. Ejha dengan cepat membukanya.
“Sayang
.”
Sms itu datangnya bukan dari Dika,bahkan dari nomor lain. Sms
itu begitu menusuk,hati Ejha spontan nyesek. Lalu ia berpikir panjang,mengapa
ada sms seperti itu saat ia tengah memegang kartu sim milik Dika ? Di mana Ejha
tahu semuanya kalau selama ini orang yang selalu menjaganya di sekolah adalah
seorang penghianat. Hari itu Ejha melihat dengan mata kepalanya sendiri,kalau
ternyata yang digosipkan itu benar. Kemudian Ejha teringat akan sms yang
bertuliskan kata Sayang yang tentu saja ditujukan kepada Dika,kekasihnya.
Hanya kata itu yang Ejha pikirkan. Iapun kembali berpikir,lantas mengapa Dika
tega menghianati tulus cintanya ?
Hari-hari yang biasanya mereka lalui dengan senyuman kini
berubah dengan tangisan. Hubungan diantara mereka merenggang. Hingga Ejha
mengambil keputusan sepihak,keputusan yang tak pernah dibayangkan Dika
sebelumnya,keputusan yang dianggap menyedihkan yaitu “Putus”. Itulah keputusan
yang Ejha ambil dan tidak dapat di ubah lagi. Beribu-ribu alasan terus Dika
ucapkan agar Ejha mau memaafkan dirinya. Tetapi itu semua percuma karena
rasanya berat untuk memaafkan seseorang yang dianggap Ejha telah menghianati
dirinya.
Hubungan mereka tidak berlangsung lama,hubungan yang mereka
anggap sebagai hubungan yang tidak dapat diputuskan dengan apapun. Tapi itu
semua hancur berantakan hanya karena sebuah penghianatan. Sebelum Ejha
benar-benar pergi dari kehidupan Dika,ia
mengarsipkan
sebuah pesan singkat yang ditulisnya sesaat setelah ia tahu orang yang
dicintainya itu menghianatinya,kemudian dikirimnya kepada Dika yang isinya
tentang ungkapan kekecewannya pada Dika,pesan itu tertulis
“Aku
sering ngalah !
Tapi untuk ini ? Maaf sayang aku bener-bener
kecewa :’)”
Karena perbuatan bodohnya itu,Dika harus rela ditinggalkan
dan dibenci oleh seseorang yang dapat mengerti dan menyayangi dirinya dengan
tulus. Hari-hari pasca putus dengan Dika, Ejha lalui dengan kesedihan. Ia hanya
belajar dan belajar,karena dengan itulah Ejha bisa melupakan bayangan wajah
seseorang yang selama ini selalu dihatinya,seseorang yang ia anggap cahaya di
dalam kehidupannya tapi sekarang cahaya itu padam karena sebuah penghianatan.
Cerpen Karangan : Meriza S.F
Facebook : Meriza Sakinah Febriyanti