Mantan Kamu Pacar Aku

“Ra gue lulus loh masuk USU dan gue bakal ninggalin kota Jambi ini”
“Wah serius, Universitas Sumatra Utara (USU) congratulatios ya buat lo Tan. Tapi gue sedih lo bakal tinggalin gue dong, tapi bukan cuma gue yang bakal sedih cowok lo pasti lebih sedih.”
“Dion maksud lo? Gue udah putus sama dia”
“Kenapa? Karena jarak Padang – Jambi deket Tan nggak bakal nyebrang Pulau masih sama di satu pulau, Pulau Sumatra. Lagian jaman sudah canggih bisa komunikasi lewat handphone, sms, telfon, facebook, twitter, bla… bla… bla” ujar ku panjang lebar.
“Iya sih semua yang lo omonggin tu bener, tapi tetap nggak enak aja yang nama nya LDR tu Ra. Mending Dion buat lo aja”
“Hahaa, ngeledek lo ya mentang-mentang gue lagi mencoba move on dari Andra” ujar ku lagi sambil tertawa.
“Ya nggak papa lah, lagian dulu gue terima dia lantaran kasihan aja.”
“Nggak salah Tan, bukan nya dia baik banget ya ke elo?”
“Iya dia emang baik, tapi gue nggak ada rasa lebih ke dia”
“Jadi selama pacaran lo ke dia cuma pura-pura doang?”
“Ya gitu deh, lo tau sedirikan sifat gue gimana?”
“Gila, tega banget lo ya”
Percakapan itu, gue nggak bakal pernah lupa. Walaupun sudah sekitar 6 bulan yang lalu. Dan entah sejak kapan Dion justru dekat dengan gue. Awalnya memang dia masih nanyain kabar Intan. Sebagai teman Intan ya gue bilang yang sebenernya gimana kabarnya. Lagian kan cuma sekedar tanya kabar apa salah nya.
Ya itu memang awalnya, akhir cerita siapa yang tau. Dion sering curhat ke gue, sebaliknya gue juga gitu ke dia. Mulai dari cerita tentang mantan-mantan dia sebelum Intan, teman-teman nya semua di obrolin sampai soal politik, artis, olahraga.
Yang justru begonya lagi gue ladenin aja tu semua obrolan dia yang ngalor-ngidul nggak jelas, dan itu semua hampir setiap hari.
Entah kenapa gue ngerasa ada yang aneh di hati gue kalau sehari saja gue nggak denger cerita dia atau kabar dari dia. Ah gila, yang bener aja gue kangen Dion.
Tan sorry, mantan kamu pacar aku…
Cerpen Karangan: Eki widiyawati
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Cinta Tak Sampai

Sudah lama ku mengenalnya. Kira kira 5 tahun yang lalu. Ketika aku duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama. Sampai saat ini kita satu kelas dan satu sekolahan. Pertemanan kita begitu baik, tak ada pertengkaran selama 5 tahun itu. Karena kami saling mengerti satu sama lain. Begitu dengan hal yang berkaitan dengan hati, dia selalu senantiasa mendengarkan kata kataku, tangisanku, ocehanku dengan sabar. Tak seperti pria yang dulu telah menghiasi hariku yang kini menghilang entah kemana.
Riyan sahabatku itu sampai saat ini belum merasakan bagaimana rasanya Jatuh Cinta. Dari cara ia berbicara, melihat, memegang wanita masih terlalu polos. Tapi kurasa ia sangat pandai dalam hal itu walau ia tak pernah merasakannya. Caranya menasihatiku seperti sudah sangat mahir dengan permasalahan di dalam hubungan. Tak kurasa juga sebentar lagi kita lulus dan akan melanjutkan hidup masing masing.
Tetapi jika Tuhan berkehendak pada kita. Kita akan tetap selalu bersama.
Pukul 20.00 suara motor berada di depan rumahku. Segera kubukakan pintu dan ternyata Riyan berkunjung ke rumah malam hari. Aku bingung, tak seperti biasanya Riyan datang ketika matahari menjadi bulan. Riyan memarkirkan motornya di halaman. Dan kulihat jelas wajahnya penuh senyuman.
“Hey..” sapanya
“Hey yan, ada apa? Tumben banget malem malem ke rumah..” tanyaku penuh keheranan
“Aku mau ajak kamu keluar, boleh?”
“Boleh aja sih, mau kemana?”
“Ehm ikut aku aja deh nanti kamu pasti juga bakalan tau. Nggak ada acara kan malem ini?”
“Ngga kok, bentar ya aku ganti baju dulu”
Setelah selesai. Aku ikut dengan Riyan. Entah ingin diajaknya kemana malem ini. Aku hanya bisa menuruti kemauannya karena ia teman baikku. Angin malam begitu dingin membuat bulu romaku berdiri. Riyan memberhentikan motornya di sebuah taman yang cukup indah, penuh dengan lampu warna warni dan terlihat begitu cantik. Riyan menggandeng tanganku ke kursi di tengah taman tersebut.
“Yan kamu mau ngapain sih?”
“Coba kamu lihat ke atas sana…”
Kulihat ke atas penuh bintang yang bergemerlap
“..indah bukan bintang itu” lanjutnya.
Aku menoleh dan tersenyum padanya. Kulihat ke arah atas lagi. Bintang semakin banyak menghiasi langit.
“Sumpah bintangnya bagus banget, yan”
“Kamu senang kan aku ajak kamu kesini?”
“Iya aku seneng banget. Makasih ya, yan”
Tak ada jawaban yang Riyan ucapkan. Seketika suasana hening sekejap. Riyan menaruh tangannya di belakang pundakku. Dirangkulnya aku dengan tangannya. Aku terdiam merasakannya.
“Put, aku boleh jujur ngga tentang perasaanku?”
“Boleh yan, jujur aja”
“Sudah 5 tahun kita bersama kan, Put”
“Iya emang kenapa?”
“Tapi belakangan ini hal yang mungkin wajar pertama kali kurasakan tiba juga. Aku mencintaimu..”
Aku terdiam.
“Aku mencintaimu bukan karena apapun. Menurutku kamu memang wanita yang sederhana, apa adanya, mengerti aku. Dan sampai sekarang tak ada pertengkaran di antara kita..”
Aku masih terdiam.
“Kenapa kamu diam? Apa aku salah mencintaimu lebih dari seorang teman? Bagiku kamu adalah wanita yang langka dicari pria untuk dijadikan kekasihnya. Aku tahu kita sudah lama berteman, dan aku sadar mungkin kamu tidak mempunyai perasaan yang sedang kurasakan saat ini. Maafkan aku, Put. Aku mengkhianati persahabatan ini”
Aku mencoba menjawab
“Untuk apa kamu meminta maaf. Sedangkan kamu tak salah. Menyukai lawan jenis itu wajar. Tak ada salahnya jika kamu mencintaiku. Di dalam persahabatan pasti ada percintaan. Begitu juga antara kamu dan aku”
“Jadi wajarkah aku memelihara rasa ini padamu? Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga mencintaiku?”
“Wajar saja jika masih dalam batasannya. Aku? Bagaimana denganku? Mungkin kamu tahu, aku belum bisa melupakan dia yang pernah melukai hatiku. Jika aku paksakan cinta ini untukmu pasti akan berakhir dengan perasaan kecewa. Aku tak mau membuat hubungan pertemanan ini yang begitu indahnya menjadi suatu yang membuat antara kita menjadi terluka”
Kuakhiri kata kataku. Dari saat itulah Riyan dan aku berteman semakin akrab. Seperti dua sejoli. Namun kita tidak bisa bersama. Riyan mengerti perasaanku dan aku senang mendengarnya. Dan sampai saat ini tak ada permasalahan menerjang karena kita menjalaninya dengan sifat yang dewasa.
Cerpen Karangan: Feby Fitriyani Putri
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

My Nusuck Story :'D

   
 
             “Uwohhhhhhhhhhhhh...” (teriaknya sambil menguap)
            Begitulah jika ia baru saja terbangun dari tidurnya. Sebut saja namanya Ejha. Ia duduk dibangku  kelas 3 SMP. Ejha yang baru saja menyelesaikan perangnya dalam menghadapi kejamnya soal-soal UNAS ini terpaksa harus bangun untuk mengambil ijazah di sekolahnya setelah mendapat jatah libur selama dua minggu.
Suara kicau burung dipagi hari terdengar menembus langit-langit kamarnya. Ejha masih saja terbaring malas untuk bangun. Tak sadar sang mentari mulai menyinari kamar yang berukuran 5x6 meter itu,Ayahnyapun dengan senang hati menerobos masuk ke ruangan favorit cewek malas ini.
“Ayo bangun,kebiasaan nunggu Ayah yang bangunin !!!” teriak  Ayahnya.
“He’emmmmmmmm iya iya !” jawab Ejha setengah hati.
Setelah itu,bergegaslah ia menuju ke kamar mandi,perjalanan yang sangat panjang menurutnya karena rasa ngantuk yang tak kunjung pergi masih saja mengikuti. Dan benar saja begitu sampai di kamar mandi,Ejha langsung masuk dan tak segan menyiram tubuhnya dengan air yang suaranya hingga terdengar sampai ke luar,Ibunya yang mendengar langsung menggedor  pintu kamar mandi.
“Woyyy yang bener dek kalau mandi,ini ya! Nggak enak didengar tetangga,ini masih pagi banget !” kata Ibu.
“Udah tahu pagi buta masih aja disuruh mandi!” bisik Ejha pada dirinya sendiri.
 “Iya buk iyaaaa !” lanjutnya sambil teriak.
Begitu ia keluar,sang Ayah sudah menunggunya di meja makan.
“Nyadar nggak sih kalau kamu itu mandinya 3 jam?” ucap Ayah.
“Apaan,idihhh lebay deh Ayah ini. Wongan baru 5 menit.” sewot Ejha yang sudah ketahuan salah masih aja nyolot.
“Sudah-sudah cepetan sana ganti baju,takut telat kamu pergi sekolah,jangan lupa sarapannya !” teriaknya pada Ejha yang sudah pergi meninggalkannya menuju kamar.
Seragam putih biru usang yang sudah disiapkannya semalam,ia kenakan.
30 menit berlalu,akhirnya Ejha siap untuk pergi ke sekolah. Sarapan yang sudah Ibunya buatkan tidak ia makan. Tak berapa lama ia berjalan kaki,sampailah ia di tempat yang menurutnya sebagai tempat pelepas penat,karena di sinilah ia bisa tertawa lepas,bercanda,sharing mulai dari hal kecil sampai yang terberat sekalipun yang tentu saja tidak ia temui di rumahnya. Yaaa ? Sekolah. Ia merasa memiliki kebanggaan tersendiri ketika sudah keluar dari rumah. Menurutnya,ia merasa terkekang jika berlama-lama berada di sana.
“Jhaaaaaaaaaaaaaaaaa..” terdengar suara teriakan seorang gadis yang sedang memanggilnya. Ejha memutar kepalanya 180 derajat.
“Heyyyy bebebku,ini dia cewek yang paling aku kangenin !” sambil merengkuh Rani,sahabat yang begitu ia sayangi itu dalam pelukannya.
“Hahahahaha,bisa aja ini bebeb sembebku. Liburan  pasca UNAS kemana kamu sayang ?” tanya Rani yang masih memeluk Ejha.
“Ya biasa beb,gitu-gitu  aja di rumah. Mandi,makan,tidur,mandi,makan,tidur.
 Arghhhhhhh ! Bosen.” Kata Ejha ngeluh.
“Ealah, kebiasaan ya bebebku ini. Kenapa nggak hangout ?” tanya Rani lagi.
            “Nggak ah beb,males. Lagipula aku lagi marahan sama dia. Pengen bubar  rasanya.”
ujar Ejha merengut.
            “Lohh lohh marahan kenapa lagi sih beb? Masa iya bubar? Udah 3 bulan ini loh,sayang tauk! Masa mau dibuang gitu aja?” jawab Rani cemas.
Tiba-tiba tiga orang gadis datang di tengah-tengah  pembicaraan mereka. Elga,Yuri dan Vira. Yaa, mereka juga sahabat Ejha dan Rani.
            “Hellooo sayang-sayangku!!!!!” teriak Yuri kegirangan.
            “Hussssss Ejha lagi galau ini.” kata Rani.
            “Loo ehh ehh kenapa ?” tanya Vira.
            “Nggak apa-apa,udah yuk kesana. Sebentar lagi giliran kita buat cap 3 jari.” ujar Ejha pelan.
            Mereka berlima bersahabat sejak pertama kali duduk dibangku kelas 3 SMP,walau yang sekelas hanya Ejha,Rani dan Elga. Namun hubungan  mereka tetap terjalin baik bahkan semakin erat,seperti tidak dapat dipisahkan lagi. Mereka adalah geng yang selalu bersama,susah atau senang,duka atau nangis. Apapun mereka lakukan bersama,banyak hal yang nyaris tidak pernah mereka lakukan tanpa bersama. Saat mereka lagi asyik berkumpul di depan kelas selagi menunggu giliran,tiba-tiba si Elga mencolek pundak Ejha.         
“Ehh kamu tahu nggak sama anak metal yang lagi deket sama aku sekarang?”
tanya Elga.
            “Iya,kenapa emang ? Si Dikakan ?” jawab Ejha datar.
            “Iya,ternyata dia sukanya sama kamu.” kata Elga lagi.
            “Hahhh?? Kok bisa dia suka sama aku? Aneh !!!” sembur Ejha.
“Ya mana aku tahu ? Katanya dia naksir kamu pas kita rekreasi ke Bali. Dia lihat
kamu waktu kita foto-foto di Bedugul. Kan sekolahnya dia barengan sama sekolah
kita ke sana ?” jelasnya,lalu Elga tertawa.
“Iya iya aku tahu kalau masalah itu. Tapi bukannya dia dekat sama kamu ? Kemarin
aja pas rekreasi kalian janjian ketemuankan di Joger ? 
Dia aja cuma sekilas melihatku. Aku juga gitu,gimana ceritanya dia bisa suka ?” Ejha meringis.
“Ya itu yang bikin aku bingung,aku pikir dia benar-benar suka sama aku,soalnya dia
bilang sayang cinta cuma sama aku.” kata Elga sedih.
“Tapi kalau dia lebih sreknya sama kamu,nggak apa-apa deh aku ikhlas,apapun buat
kamu sahabatku.” lanjutnya.
“Idihhhh apaan? Ogah ah! Akukan masih punya someone!” Ejha menepis ucapan Elga. Keningnya mengernyit.
 “Lagi ngomongin gebetan Elga yang keren itu ya ? Sihiyyyyy !!!” seru seorang gadis dari belakang,Ejha menoleh. Ternyata ada Rani yang sudah dari tadi berada di sana.
“Ini lagi! Tauk ah!” singkat Ejha.
“Iya nih ran,dia naksir Ejha katanya. Hahahaha!” jawab Elga kegirangan.
“Ceileeh,yang  lagi kasmaran !” Rani menyenggol Ejha dengan sikutnya.
“Kalian berdua ini ya!! Isssshhh!! Nih nih liat status akun facebooknya. Dia itu masih
punya pacar. Dan aku juga masih punya !!” kata Ejha sewot.
“Cieee yang lagi stalking akun facebook si Dika.” lagi-lagi Rani menggoda Ejha.
“Tapi ya beb,jangan ah! Aku agak nggak setuju kalau kamu sama dia,soalnya dia udah
ngedeketin Elga eh malah sekarang lari mau ngedeketin kamu. Udah gitu dia masi
punya pacar,playboy dia beb. Mending terusin aja sama si Dery.” sambung Rani.
“Iya iya sayangku,lagian siapa juga yang mau sama dia. Setia sama satu orang ini.”
Ejha tersenyum.
“Janji ya beb ?” tanya Rani lagi.
“Iya iya beb janji kok. Beb aku pulang dulu ya ? Udah ditunggu sama Elga di depan.” Ejhapun melenggang pergi.
“Iyyyaaaa sayang hati-hati !!!” teriak Rani sambil melambaikan tangannya kepada Ejha,iapun membalasnya.
Sepulang dari sekolah,Ejha menangis. Air mata kembali bergulir dipipinya,setelah ia memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri tanpa ada bayang-bayang Dery lagi di dalamnya. Diusapnya air matanya,tapi tetap saja ngalir terus,tidak bisa berhenti. Matanya yang sipit menjadi sembab karena begitu lama menangis.
Saat malam hari mulai menjelang, dan saat semua orang di rumahnya tertidur,Ejha memilih untuk tetap terjaga hingga larut malam, ini merupakan kebiasaan rutin yang ia lakukan tiap satnite. Bertemankan handponenya yang begitu sepi,biasanya sih yang selalu meramaikan si Dery,namun karena hubungan mereka kandas di tengah jalan,terpaksa Ejha harus terima kesepian yang begitu menyiksanya. Akhirnya iapun menyibukkan diri dengan memonitor timeline dan postingan orang-orang yang ada di sosial media facebook. Begitu membuka situs jejaring sosial pribadinya itu,ia terkejut karena Dika me-like seluruh postingan miliknya. Sempat GR sih,namun Ejha kembali berpikir kalau Dika melakukannya hanya modus dan tak berniat apa-apa. Tak berapa lama handponenya berdering,ternyata sms itu datangnya dari nomor baru yang tentu saja tidak Ejha kenal.
“Heh :D”
Ejha tidak langsung membalas sms misterius itu seperti halnya ia membalas sms mantan kekasihnya dulu,ia memutar-mutar telepon genggamnya lantas ia tempelkan didagunya. Akhirnya ia membalas dengan rasa penasaran dan sedikit takut.
            “Sp ?”
Selang beberapa menit,handponenya kembali berdering.
            “Dika heh :D”
“Yaaa ampunnn ternyata dia.” ujarnya pada dirinya sendiri.
Masa pendekatan mereka mulai,ia merasa mulai jatuh cinta kepada Dika. Ejha tak sadar dan melupakan ucapan Rani pada siang itu yang mengatakan bahwa Dika adalah seorang playboy, ternyata benar cinta buat orang buta segalanya. Siapa sangka, Ejha yang awalnya ogah sekarang malah cinta mati kepada Dika. Tai Kucing rasa Coklat, HAHAHA \=D/
 Dikapun merasa kalau dirinya menyukai Ejha pada pertemuannya yang pertama kali itu pada saat di Bali. Ejha membuat Dika menyukainya karena senyumnya yang membuat Dika tak dapat melupakannya. Namun Ejha merasa kesal,dilain sisi hati cewek hancur-sehancur hancurnya karena Dika seringkali menceritakan cewek lain yang ia sukai kepada Ejha. Ejha berpikir kalau Dika hanya berpura-pura menyukainya.
Belum genap seminggu mereka menikmati masa-masa pendekatan satu sama lain,minggu paginya Dika memberanikan diri menelfon Ejha.
“Kamu baru putus ya?” tanya Dika lembut.
“Iya.” jawab Ejha singkat sambil mengusap keringat yang mengucur dilehernya. Ejha begitu grogi karena untuk pertama kalinya ia mendapat telfon dari Dika.
“Udahlah  jha,barangkali memang bukan jodohmu. Lagian masih ada cowok lain yang nungguin kamu.” kata Dika berusaha meyakinkan Ejha.
“Mana ada cowok yang mau sama aku?” Ejha patah semangat.
“Ada kok! Aku! Aku suka sama kamu,dan aku sayang sama kamu,bukan cuma sebagai teman biasa. Aku pengen hubungan kita lebih dari sekedar teman ataupun sahabat.” Dika mengutarakan seluruh isi hatinya kepada Ejha,sekalipun itu hanya lewat telfon.
Si Ejha terkaget-kaget,ia tak menyangka.
“Jadi selama ini cewek yang musti kamu ceritain ke aku ituuu...” ucap Ejha terputus.
“Kamu! Cewek itu kamu sendiri! Kamu bersedia jadi pacarku?” sambung Dika.
“Emmmmmmm....” Ejha berpikir keras.
“Loh hey,ayo jawab! Kok malah diem? Apa perlu aku ulang?” suaranya begitu lembut saat Dika mengucapkannya.
“Eng....gakkk! I....yaaaa a....ku mau jadi pacar ka..mu !” kata Ejha lambat-lambat. Lagi-lagi keringat dingin mengucur dilehernya.
“Serius mau? Nggak terpaksakan? Ya Allah aku seneng banget loh jha Ejha.”
Suara Dika begitu  nyaring dan terdengar seperti seseorang yang baru saja
mendapat kupon berhadiah,ia begitu senang dan bahagia saat Ejha mau menerimanya.
Paginya Ejha sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Hari ini ia menetapkan untuk bercerita tentang hubungannya dengan Dika kepada Rani. Wajahnya berseri-seri,senyum selalu terpancar diwajahnya.
“Pagi Ran...!!” sapanya sambil menepuk bahu Rani.
“Pagi ! Semangat banget sihhh,ada apa nih ?” tanya Rani penasaran.
“A.....kuuu !” kata Ejha terbata-bata.
“Iyaaa kenapa kamu ?” Rani makin penasaran.
“Aku baru jadian !” dengan gerakan bibir yang cepat Ejha mengucapkannya.
“Hahhh? Serius? Sama siapa beb? Bukannya kemarin baru putus ya sama Dery ?” ucap Rani sedikit mencondongkan mulutnya ke depan.
“Iya beb. Tapikan nggak ada yang tahu kejadian selanjutnya kayak gimana. Haha !”
ujar Ejha sumringah.
“Ihhh resek ini ah bebeb. Siapa cowok yang berhasil naklukin hati sahabatku yang
jutek ini ?” dumel Rani.
“Jangan gitulah beb. Akukan malu !” ujar Ejha tersipu.
“Iya iya makanya ayo cepetan cerita.” jawab Rani yang semakin sebal dan lagi-lagi penasaran.
Ejha nyengir menatap Rani lamat-lamat,lantas melontarkan sebuah kata pendek.
“Dika !” Ejha menjentikkan bahunya.
“Bebbb? Serius sama si Dika ? Sama mantan gebetan Elga itu? 13 mei 2012
kemarin?” kata Rani yang masih tak percaya sambil menempelkan kedua telapak tangannya dipipi Ejha. Ejha tidak berkata apapun,ia hanya mengangguk. Rencanya besok pagi si Dika ingin mengajaknya untuk kencan yang pertama kali,dan benar saja Ejhapun mengIYAkannya.
Hari-hari mereka lalui bersama,hingga mereka mengikat sebuah hubungan yaitu “Pacaran”. Kebahagiaan terus mereka rasakan. Handpone yang selalu ada digenggamannya selalu membuat Ejha tersenyum sendiri. Layar telfon genggamnya itu mampu membuatnya
deg-degan,kesal,senang,dan bingung akhir-akhir ini.
“Sayang,besok  jadikan ? Kita ketemu di mana ?:*”
“Besok cuma ketemu atau hangout berdua sayang ?:*”
“Ketemu aja dulu deh sayang. Nggak apa-apa kan ? J
“Ealah,iyadeh sayang. Kita ketemu di Indomart dekat rumahku aja ya ?
Tahukan sayang ?”
“Iya sayang tahu kok. Aku ke sana gowes aja deh sayang. Biar lebih kelihatan gitu
perjuangan buat ketemu sama pacar kesayanganku ini. Hehe :D”
“Cieee sayang bisa aja deh. Jadi malukan aku ? Beneran mau gowes ? 
Nggak deket loh rumahku dari rumahmu :p”
“Iya iya sayangku,masa iya bohong ? Nggak sabar deh nunggu besok!          Sayang bilangin dong sama Tuhan,buruan besoknya nggak sabar 
ketemu Ejha :*”
“Lebay deh sayang ini :p”
“Lebay sekali-kali sama pacar sendirikan nggak apa sayang. 
Sayang kamu heh :*”
“Iya iya,sayang kamu juga pacar :*”
Ejha menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur,lalu menutup matanya perlahan,dan sambil berpikir tentang hal apa yang akan terjadi besok saat ia bertemu Dika. Sedikit berpikir untuk mencari cara agar bagaimana atau apa yang akan diucapkannya besok saat Dika berada di hadapannya,dan itu membuatnya lelah dan mengantuk,akhirnya tertidur.
            “Selamat pagi dunia !!!” teriak Ejha setelah membuka jendela kamarnya.
Hari ini Ejha semangat sekali untuk bangun,suara teriakan sang Ayah yang biasa mengganggu gendang telinganya tak lagi ia dengar. Karena ia bangun sebelum Ayahnya kembali menerobos kamarnya. Kalau tidak karena acara kencannya dengan Dika,tak mungkin ia bangun sepagi ini. Bergegas ia keluar dari rumah,karena Dika telah memberi tahunya kalau ia sudah menunggu Ejha ditempat yang sudah mereka rencanakan. Ejha tampil berbeda hari ini,ia jalan ke sana ke mari untuk menemui orang yang dicintainya,Dika. Dari kejauhan,ia mendapati kekasihnya itu sedang menunggunya sambil menyenderkan sepeda yang dinaikinya ke tembok. Dika menatap Ejha takjub. Tidak berapa lama sebuah kata terlontar dari bibir Dika.
“Akhirnya yang ditunggu datang juga,kok sendirian aja ?” kata Dika tersenyum.
“Iyalah,masa mau ngajakin orang sekampung.” balas Ejha sambil melihat-lihat
keadaan di sekitarnya.
“Ya nggak juga sih sayang.” Dika meringis memperlihatkan barisan giginya.
“Udah makan ?” lanjutnya.
Ejha mengangguk tanpa mengeluarkan sepotong katapun,ia kembali grogi.
“Ejha cantik hari ini.” lagi-lagi tatapan Dika sangat lembut dengan senyumnya yang
menawan.
“Ah bisa aja.” jawab Ejha sambil malu-malu.
“Aku nggak bohong kalau Ejha itu cantik.” suaranya yang lembut membuat Ejha terpaku. Ejha hanya diam tak bisa bicara,jantungnya berdegub kencang tak karuan saat mendengar Dika mengatakan “CANTIK” pada dirinya.
“Ternyata beneran gowes ?” Ejha mengalihkan pembicaraan.
“Kan aku udah bilang,aku gowes biar perjuangan buat ketemu kamu itu lebih
kelihatan.” balas Dika tak lupa senyum khasnya.
“Iya deh iya,terimakasih ya ?” kata Ejha.
“Terimakasih untuk apa ?” dan untuk pertama kalinya Dika bertanya dengan tatapan yang tak terlihat lagi senyumnya yang menawan diwajahnya.
            “Ya soalnya udah bela-belain gowes kesini cuma buat ketemu aku.” Ejha menjawab sambil menghela napas ditemani dengan senyumnya yang langsung mengembang.
“Jangan gitu ah,bukannya wajar ya kalau cowok itu ngebuktiin rasa
sayang kepasangannya ? Maaf kalau cuma bisa seperti ini. Aku sadar kok,aku berbeda
90 derajat dengan mantan-mantanmu,mereka punya segalanya. Sedangkan aku ?”
diakhir kata Dika menundukkan kepalanya.
“Ini lebih dari cukup,terimakasih. Kamu berbeda !” lagi-lagi Ejha hanya tersenyum.
“Berbeda karena pembuktianku nggak seistimewa mantan-mantanmukan ?”
Dika kembali menunduk,ia hanya sekilas menatap wajah Ejha.
“Ini lebih dari sekedar istimewa,sumpah belum ada yang berani gowes jauh-jauh
kesini cuma buat ketemu aku,kamu yang pertama.” Ejha menatap wajah Dika yang
masih belum memiliki keberanian untuk membalas tatapan Ejha.
Tiba-tiba suasana hening mulai terasa,mereka berdua tidak saling bicara.
Dan saat Ejha bermain-main dengan tangannya Dika menatapnya,tatapannya yang tajam selalu mengarah Ejha. Lantas membuat Ejha salah tingkah,makin lama makin dekat.
“Dika...” ucap Ejha.
“Ya ??” jawab Dika lembut seraya mengelus pelan punggung tangan Ejha.
“Kenapa kamu...?” jawab Ejha terputus.
Kemudian Ejha merasakan getirnya kecupan bibir Dika dipipinya.
“Oh my God,dia menciumku.” (kata Ejha dalam hati)
“Maaf jha,aku nggak bermaksud menyuruhmu kesini hanya untuk...” lanjutnya dan melepaskan bibirnya dari pipi Ejha.
Ejha diam dan berpikir kata apa yang cocok untuk menjawab itu semua.
“Emmm,aku pulang dulu,ada acara keluarga.” Ejha hanya menjawab sepatah kata singkat dan langsung melenggang pergi.
Tepat setelah mengucapkan kalimatnya yang terakhir,sekilas terlintas dalam benaknya,Ejha bertanya-tanya mengapa ia harus secuek itu terhadap Dika,padahal Dika menciumnya hanya karena Ejha berhasil meyakinkannya kalau Dikalah yang terbaik.
            “Duh,bodoh Ejha kamu bodoh,seharusnya kamu nggak ngelakuin hal itu sama Dika.” kata Ejha pada dirinya sendiri sambil menepuk dahinya. Handponenya kembali berdering,Ejha terbangun dari lamunannya. Ternyata si Dika
“Sayang,maaf soal tadi. Aku nggak ada maksud... L
“Iyya sayang,nggak apa-apa kok. Akunya aja yang terlalu sensi J
“Wajar sayang sensi,ini pertama kali kita ketemu soalnya L
“Udahlah sayang,nggak usah dibahas ya ? Aku nggak apa-apa kok.”
“Beneran nggak apa-apa ? Ya udah sayang. Oh ya aku cuma mau bilang.
Yang aku sayang kamu doang,selamanya sayangku tetap kamu sayangku ({})”
“Iya iya aku juga,tapi janji ya ? Jangan ingkar loh.”
“Iya sayang,percaya deh sama aku :*”
Hari demi hari Ejha lewati bersama Dika. Dika adalah pangeran yang kini mengisi hidupnya. Anugerah Tuhan yang membuatnya serasa seperti putri dalam dongeng. Bahkan saat test penentuan di mana ia harus melanjutkan sekolah menengah atasnya,Dika selalu menemani. Tiga hari pasca test,Ejha sangat berantusias untuk melihat hasil akhirnya,dimanakah ia harus kembali mengenyam bangku sekolah. Ternyata Tuhan menakdirkannya untuk satu sekolah dengan Dika,bahagia tak bisa ia sembunyikan. Wajah Ejha berseri-seri.
“Akhirnya terwujud juga satu sekolah sama Ejha.” ujarnya sambil tersenyum sumringah.
“Iya,benar-benar nggak nyangka.” kata Ejha pelan.
“Ya udah,yuk pulang.” Dika mengajaknya pulang sambil menancap gas sepeda motornya itu.
“Yuk !” kata Ejha dengan sigap dan langsung mengambil posisi berboncengan dibelakang Dika.
Masa orientasi tentu saja ia lalui bersama Dika,meski mereka tidak satu kelas namun Dika rajin sekali duduk atau sekedar lewat di depan kelas Ejha. Sebulan kemudian Ejha meminta Dika untuk bertukar kartu sim,tanpa dimintapun Dika langsung menyetujui.
Keesokan harinya Dika kembali menemui Ejha di depan kelas untuk menepati janjinya,Ejha tidak keluar kelas hanya lewat jendela ia memberikan kartu simnya itu. Tidak sepatah katapun ia lontarkan kepada Dika,bahkan ia langsung melenggang pergi dan meninggalkan Dika. Ia duduk nyaman dan tenang setelah mengaktifkan kartu sim milik Dika dalam handponenya. Pelajaran demi pelajaran ia jalani dengan khidmat tanpa terasa bel pulangpun berbunyi. Handponenya kembali berdering,ada satu sms masuk. Ejha dengan cepat membukanya.
“Sayang .”
Sms itu datangnya bukan dari Dika,bahkan dari nomor lain. Sms itu begitu menusuk,hati Ejha spontan nyesek. Lalu ia berpikir panjang,mengapa ada sms seperti itu saat ia tengah memegang kartu sim milik Dika ? Di mana Ejha tahu semuanya kalau selama ini orang yang selalu menjaganya di sekolah adalah seorang penghianat. Hari itu Ejha melihat dengan mata kepalanya sendiri,kalau ternyata yang digosipkan itu benar. Kemudian Ejha teringat akan sms yang bertuliskan kata Sayang yang tentu saja ditujukan kepada Dika,kekasihnya. Hanya kata itu yang Ejha pikirkan. Iapun kembali berpikir,lantas mengapa Dika tega menghianati tulus cintanya ?
Hari-hari yang biasanya mereka lalui dengan senyuman kini berubah dengan tangisan. Hubungan diantara mereka merenggang. Hingga Ejha mengambil keputusan sepihak,keputusan yang tak pernah dibayangkan Dika sebelumnya,keputusan yang dianggap menyedihkan yaitu “Putus”. Itulah keputusan yang Ejha ambil dan tidak dapat di ubah lagi. Beribu-ribu alasan terus Dika ucapkan agar Ejha mau memaafkan dirinya. Tetapi itu semua percuma karena rasanya berat untuk memaafkan seseorang yang dianggap Ejha telah menghianati dirinya.
Hubungan mereka tidak berlangsung lama,hubungan yang mereka anggap sebagai hubungan yang tidak dapat diputuskan dengan apapun. Tapi itu semua hancur berantakan hanya karena sebuah penghianatan. Sebelum Ejha benar-benar pergi dari kehidupan Dika,ia
mengarsipkan sebuah pesan singkat yang ditulisnya sesaat setelah ia tahu orang yang dicintainya itu menghianatinya,kemudian dikirimnya kepada Dika yang isinya tentang ungkapan kekecewannya pada Dika,pesan itu tertulis
“Aku sering ngalah !
  Tapi untuk ini ? Maaf sayang aku bener-bener kecewa :’)”
Karena perbuatan bodohnya itu,Dika harus rela ditinggalkan dan dibenci oleh seseorang yang dapat mengerti dan menyayangi dirinya dengan tulus. Hari-hari pasca putus dengan Dika, Ejha lalui dengan kesedihan. Ia hanya belajar dan belajar,karena dengan itulah Ejha bisa melupakan bayangan wajah seseorang yang selama ini selalu dihatinya,seseorang yang ia anggap cahaya di dalam kehidupannya tapi sekarang cahaya itu padam karena sebuah penghianatan.

Cerpen Karangan : Meriza S.F
Facebook : Meriza Sakinah Febriyanti
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS